Dear Kokiers,
Bagi kaum pria, bila rasa gatal ini menyerang Anda tepat di di kemaluan, berarti sudah positif Anda didiagnosa terserang penyakit GELIJI* atau GATSBI**. Dan obat yang paling mujarab sementara ini adalah: GABILEKA*** yang tentu saja tidak bisa ditemukan di apotek terdekat, melainkan dari inisiatif si penderita sendiri.
Pesan moral, rajin-rajinlah membersihkan bagian-bagian tersembunyi tubuh Anda dan juga memperhatikan kebersihan pembungkusnya jika tidak ingin sering-sering diserang rasa gatal ini.
Nah, penyakit ini mungkin akan jadi masalah jika rasa gatal ini menyerang tanpa pandang bulu (bulu apa saja) di tengah keramaian. Apakah korbannya sedang berada di tempat umum, sedang menunggu bus, sedang bertelepon, atau sedang meeting. Bahkan yang paling gawat adalah, jika sang korban sedang menghadapi test wawancara dalam proses penerimaan karyawan baru.
Kasus paling sering ditemui pada calon karyawan baru ini adalah gatal bawah telapak kaki, sementara yang bersangkutan nggak mungkin melepas sepatu di hadapan calon boss hanya untuk sekedar melepas sepatunya, apalagi menggaruk. Sungguh menyebalkan. Digesek-gesekan ke ubin juga nggak berpengaruh, ditahan sekeras apapun juga sudah pasti nggak bakal mempan. Sementara gatelnya yang menusuk-nusuk telapak kaki itu merangsang mulut untuk merutuk, mengumpat dan menggugat disertai raut wajah tersiksa.
Dulu ada KoKiers yang lagi mengikuti training dan duduk persis di depan kelas, terserang gatal di sela jemari kakinya. "Weeeksss.., mau digaruk kok malu sama supervisor.. tapi kalau didiemin kok makin guaateeel...", rungutnya via YM..
Ada lagi gatal yang disebabkan oleh bangsa cacing kremi, yang sering menyerang pantat. Cacing ini bergerak ke daerah di sekitar anus untuk menyimpan telurnya di dalam lipatan kulit anus korban. Konon gerakan dari cacing inilah yang menyebabkan gatal-gatal. Wah, kalau teror ini sudah datang dan Anda sedang melakukan meeting atau mungkin berada di kendaraan umum, paling yang bisa dilakukan hanya gesek-gesek pantat maju mundur sambil mencoba “mengecilkan” diameter anus untuk mengurangi serangan si teroris ini. Dan yakinlah, sungguh tak mungkin untuk melakukan “penggarukan” langsung di TKP (Tempat Kejadian Perkara).
Mencoba untuk bertahan, serasa siksa di neraka kelas dua karena panas yang ditimbulkan si cacing sialan ini. Tapi, sesungguhnya lah wahai kalian kaum perkasa, rasa gatal ini hanyalah suatu cobaan, suatu suasana dilematis yang tak berujung, yang bila kita berhasil melewatinya walhasil akan mendapatkan pahala... Entah pahala dari mana.. Yang jelas, digaruk salah , nggak di garuk pun salah. Sungguh menyiksa!!
Kembali ke masalah pergatalan.
Gatal yang lain akibat serangan teroris adalah dari mahluk penghisap darah yang berbadan kecil tapi menyebalkan, nyamuk. Ketika nyamuk menggigit, maka dengan keji dia akan menancapkan ujung mulutnya yang lancip dan panjang itu ke permukaan kulit. Selanjutnya dengan kekuatan penuh, ia akan menyedot darah di bawah kulit itu masuk untuk memenuhi hasrat liarnya. Jika beruntung dan bernasib baik, maka dia bisa menyedot darah korban sampai puas dan terbang sempoyongan saking kenyangnya. Sebaliknya kalau lagi apes, maka pukulan tangan si korban yang tentu saja nggak rela darahnya disedot semena-mena akan membuat nyamuk menjadi almarhum seketika dan sia-sialah perjuangan nyamuk dalam mencari nafkah yang disertai dengan doa dan darah itu. Plaaaak..!!!
Ngomong masalah nyamuk ini, seharusnya kamar yang saya tempati ini sudah bebas nyamuk dan kawan-kawannya, karena secara rutin base camp kami di-fogging dua minggu sekali oleh petugas HSE. Tapi memang nyamuk-nyamuk disini kayaknya belum bebas buta aksara, meskipun sudah dikasih travel warning, "nyamuk dilarang masuk", eh masih nekad juga. Dasar nyamuk!
Sebenarnya sih, nyamuknya cuma satu, tapi berkat keramah-tamahan khas Budaya Timur maka dia mengajak kerabat dan tetangga kiri kanan untuk berpesta mencari korban darah. Walhasil, meskipun seluruh tangan, kaki dan tak jarang kuping pun diolesi cream antinyamuk, masih terjadi juga hal-hal menjengkelkan yaitu, si nyamuk masih nguing-nguing berkutat di kuping dan sekitarnya. Nguiiingg…. Nguiiingg… Nguiiingg… hah, menyebalkan! Tapi sepertinya kita dipaksa harap maklum selama bulan puasa ini, karena mereka kan juga perlu berjuang untuk bertahan hidup meski menurut kita caranya sungguh-sungguh tak terpuji.
Nah KoKiers,
Sebenarnya ada juga cara lain, yaitu dengan olesan balsam. Memang untuk sementara bisa hilang, tapi efek yang ditimbulkan sangat-sangat tidak nyaman dan panas.
Bahkan jika Anda lupa setelah mengoleskan balsam trus seketika kebelet pipis, waahh tanggung sendiri akibat dari panas yang ditimbulkannya. Sebaliknya jika digaruk, kruek kruuek kruuueek.. hmmmm uuuuuuuuugghhh..... iiiigghhhhhhhh…., ssssssssssshhhh… hrrrrr… arrrgghhh….. pasti lega, wuenaks dan puasss!!!
Makanya jika Anda terserang gatal, lakukanlah prosesi penggarukan dengan penuh penghayatan, pelan dengan mata terpejam dan bibir sedikit terbuka seperti salah satu avatar kokiers. Niscaya kenikmatan yang luar biasa kontan menjadi milik Anda seorang yang nggak bakal dimiliki oleh orang lain.
sumber: kolomkita.detik.com
0 komentar:
Posting Komentar